1.    Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Berdasarkan data yang tersedia, jumlah penduduk di Kelurahan Kalinyamat Kulon tercatat sebanyak 5.714 jiwa, yang terdiri dari 2.860 jiwa laki-laki dan 2.854 jiwa perempuan. Komposisi ini menunjukkan distribusi penduduk yang relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan.

Keseimbangan komposisi jenis kelamin ini mencerminkan tidak adanya dominasi signifikan dari salah satu jenis kelamin dalam struktur penduduk, sehingga dapat menjadi indikator stabilitas sosial serta dasar perencanaan kebutuhan layanan publik yang merata bagi seluruh penduduk, baik laki-laki maupun perempuan.

Jika dilihat lebih rinci berdasarkan wilayah Rukun Warga (RW), komposisi penduduk laki-laki dan perempuan di masing-masing RW di Kelurahan Kalinyamat Kulon menunjukkan variasi yang cukup menarik.

  • RW 1 memiliki jumlah penduduk laki-laki sebanyak 880 jiwa dan perempuan sebanyak 860 jiwa, dengan sex ratio sekitar 102,3, yang berarti terdapat sekitar 102 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.
  • RW 2 memiliki 706 jiwa laki-laki dan 750 jiwa perempuan, dengan sex ratio sebesar 94,1, yang berarti terdapat sekitar 94 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.
  • RW 3 mencatat 848 jiwa laki-laki dan 805 jiwa perempuan, dengan   sex ratio sekitar 105,3, yang berarti terdapat sekitar 105 laki-laki untuk setiap 100 perempuan
  • RW 4 memiliki 426 laki-laki dan 439 perempuan, dengan sex ratio sebesar 97,0, yang berarti terdapat sekitar 97 laki-laki untuk setiap 100 perempuan

Nilai sex ratio yang lebih dari 100 menunjukkan bahwa di wilayah tersebut lebih didominasi oleh penduduk laki-laki, sedangkan nilai sex ratio yang kurang dari 100 menunjukkan kondisi sebaliknya. Variasi sex ratio antar RW ini dapat digunakan sebagai informasi awal dalam melihat pola demografis wilayah secara mikro, serta menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program pelayanan masyarakat yang mempertimbangkan kebutuhan berbasis wilayah dan gender.

1.    Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur

Distribusi penduduk Kelurahan Kalinyamat Kulon berdasarkan kelompok umur menunjukkan struktur umur yang cukup seimbang antara penduduk usia muda, usia produktif, dan usia lanjut. Secara umum, penduduk tersebar pada seluruh kelompok umur dengan dominasi pada kelompok usia produktif.

Kelompok umur 40–44 tahun merupakan kelompok dengan jumlah penduduk terbanyak, yaitu sebanyak 511 jiwa (262 laki-laki dan 249 perempuan), diikuti oleh kelompok umur 10–14 tahun sebanyak 495 jiwa (252 laki-laki dan 243 perempuan), serta kelompok umur 5–9 tahun sebanyak 479 jiwa (239 laki-laki dan 240 perempuan). Jika dikategorikan secara umum:

  • Penduduk usia 0–14 tahun (usia anak) berjumlah 1.392 jiwa, mencakup sekitar 24,36% dari total penduduk.
  • Penduduk usia 15–64 tahun (usia produktif) mencapai 3.962 jiwa, atau sekitar 69,34% dari total penduduk.
  • Penduduk usia 65 tahun ke atas (usia lanjut) berjumlah 360 jiwa, setara dengan 6,3% dari total penduduk.

Jika divisualisasikan dalam bentuk piramida penduduk, struktur umur di Kelurahan Kalinyamat Kulon menunjukkan bentuk yang menyerupai piramida stasioner menuju konstruktif, dengan basis yang masih cukup lebar, tubuh tengah yang dominan, dan puncak yang meruncing. Artinya, wilayah ini memiliki proporsi penduduk usia muda yang masih besar, namun didominasi oleh kelompok usia produktif, serta memiliki proporsi penduduk usia lanjut yang relatif kecil.

Struktur ini mencerminkan bahwa Kalinyamat Kulon berada pada fase bonus demografi, di mana sebagian besar penduduk berada pada usia produktif (15–64 tahun). Hal ini merupakan potensi besar bagi pembangunan ekonomi dan sosial, apabila didukung dengan ketersediaan lapangan kerja, pendidikan, serta fasilitas kesehatan yang memadai.

Di sisi lain, basis piramida yang masih cukup lebar juga menunjukkan adanya kebutuhan terhadap pelayanan pendidikan dan perlindungan anak yang berkelanjutan. Sementara bagian puncak yang mengecil menandakan bahwa beban ketergantungan dari kelompok usia lanjut belum terlalu tinggi, namun tetap perlu diantisipasi melalui penyediaan layanan jaminan sosial dan fasilitas kesehatan lansia.

3.    Jumlah Penduduk Menurut Wilayah RW

Sebaran jumlah penduduk di Kelurahan Kalinyamat Kulon menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan antar wilayah Rukun Warga (RW). Dari total 5.714 jiwa, penduduk paling banyak tercatat berada di RW 001 dengan jumlah 1.740 jiwa, disusul oleh RW 003 sebanyak 1.653 jiwa, dan RW 002 sebanyak 1.456 jiwa. Sementara itu, jumlah penduduk paling sedikit terdapat di RW 004, yaitu sebanyak 865 jiwa.

Perbedaan jumlah penduduk ini dapat mencerminkan kepadatan hunian, luas wilayah, maupun tingkat perkembangan infrastruktur dan pemukiman di masing-masing RW. RW 001 sebagai wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi kemungkinan memiliki konsentrasi permukiman yang lebih padat. Sebaliknya, RW 004 yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit, dapat menjadi wilayah dengan karakteristik hunian yang lebih renggang atau luas yang lebih kecil.

4.    Jumlah Penduduk Menurut Agama

Mayoritas penduduk di Kelurahan Kalinyamat Kulon menganut agama Islam, dengan jumlah sebanyak 5.713 jiwa atau hampir seluruh populasi. Sementara itu, terdapat 1 jiwa yang menganut agama Kristen. Komposisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Kalinyamat Kulon memiliki tingkat homogenitas yang sangat tinggi dalam hal keyakinan keagamaan.

Kondisi ini mencerminkan kuatnya identitas keagamaan Islam dalam kehidupan sosial masyarakat setempat, yang kemungkinan juga tercermin dalam aktivitas budaya, kegiatan keagamaan, serta kelembagaan sosial di lingkungan kelurahan. Meski demikian, keberadaan penduduk dengan agama yang berbeda tetap menjadi bagian dari keberagaman yang perlu dijaga dan dihormati dalam kehidupan bermasyarakat.

5.   Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan/Kegiatan Utama

Sebaran penduduk Kelurahan Kalinyamat Kulon berdasarkan pekerjaan/kegiatan utama menunjukkan bahwa penduduk belum atau tidak bekerja sebanyak 1.534 jiwa. Selain itu, terdapat 878 jiwa yang berstatus pelajar atau mahasiswa dan 778 jiwa yang merupakan pengurus rumah tangga, mencerminkan tingginya proporsi penduduk usia non-produktif maupun mereka yang masih dalam tahap pendidikan.

Sementara itu, di antara kelompok yang bekerja, pekerjaan di sektor informal dan kewirausahaan mendominasi. Tercatat 686 jiwa sebagai buruh harian lepas, diikuti oleh 633 jiwa

bekerja sebagai pedagang, dan 565 jiwa sebagai wiraswasta. Di sektor pertanian, terdapat 104 jiwa yang bekerja sebagai petani atau pekebun, serta 17 jiwa di sektor perikanan/nelayan.

Pekerjaan di sektor formal mencakup 355 jiwa karyawan swasta, 54 jiwa Pegawai Negeri Sipil (PNS), serta sejumlah kecil tenaga profesional seperti guru (40 jiwa), perawat (3 jiwa), dan bidan (3 jiwa). Sementara itu, pekerjaan lain seperti tukang, mekanik, sopir, dan tenaga keagamaan (ustadz/mubaligh) tercatat dalam jumlah yang lebih kecil.

Kondisi ini menunjukkan bahwa struktur ketenagakerjaan di Kalinyamat Kulon masih didominasi oleh sektor informal, dengan keterlibatan tenaga kerja di sektor perdagangan dan jasa yang cukup tinggi. Hal ini dapat menjadi potensi ekonomi lokal yang perlu ditopang dengan pelatihan keterampilan, kemudahan akses permodalan, serta penguatan pasar usaha mikro dan kecil.

6.    Jumlah Penyandang Disabilitas

Berdasarkan data yang tercatat, jumlah penduduk penyandang disabilitas di Kelurahan Kalinyamat Kulon mencapai 55 jiwa dengan ragam jenis disabilitas yang berbeda-beda. Jenis disabilitas yang paling banyak dijumpai adalah Tuna Daksa (yakni disabilitas fisik akibat kelumpuhan, kelainan, atau ketidaklengkapan anggota gerak), sebanyak 16 jiwa. Disusul oleh penyandang disabilitas Tuna Rungu (Tuli) sebanyak 11 jiwa dan 9 jiwa yang merupakan penyandang Tuna Laras, yaitu individu dengan gangguan kejiwaan atau eks sakit jiwa. Sementara itu, terdapat pula Tuna Rungu-Wicara (Tuli-Bisu) sebanyak 7 jiwa.

Jenis disabilitas lainnya yang juga tercatat meliputi:

  • Tuna Grahita (keterbelakangan mental) sebanyak 6 jiwa
  • Tuna Ganda (gabungan disabilitas fisik dan mental) sebanyak 3 jiwa
  • Tuna Netra (buta) sebanyak 2 jiwa
  • Tuna Wicara (bisu) sebanyak 1 jiwa

7. Jumlah Keluarga Menurut Penggunaan Listrik

Sebagian besar keluarga di Kelurahan Kalinyamat Kulon telah memiliki akses terhadap layanan listrik, khususnya dari penyedia resmi yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN). Dari total 1.871 keluarga, sebanyak 1.843 keluarga atau sekitar 98,5% tercatat menggunakan listrik PLN dengan meteran, yang menunjukkan tingkat elektrifikasi yang sangat tinggi di wilayah ini.

Selain itu, terdapat 28 keluarga yang masih menggunakan listrik PLN tanpa meteran, yang umumnya mengindikasikan sambungan tidak resmi atau belum sepenuhnya terdata oleh sistem PLN. Sementara itu, tidak terdapat keluarga yang menggunakan sumber listrik non-PLN maupun yang tidak menggunakan listrik sama sekali.

Kondisi ini mencerminkan bahwa hampir seluruh rumah tangga di Kalinyamat Kulon telah menikmati layanan listrik secara langsung, yang menjadi indikator penting dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Namun demikian, kehadiran pengguna listrik tanpa meteran tetap perlu menjadi perhatian, baik dari sisi legalitas sambungan maupun keamanan instalasi

8.    Jumlah Keluarga Menurut Penggunaan Fasilitas Buang Air Besar

Berdasarkan data penggunaan fasilitas buang air besar, mayoritas keluarga telah memiliki akses terhadap sarana sanitasi yang layak. Sebanyak 1.462 keluarga atau sekitar 78% menggunakan jamban sendiri, menandakan kepemilikan pribadi atas fasilitas sanitasi yang memadai. Sementara itu, terdapat 409 keluarga atau sekitar 22% yang masih menggunakan jamban bersama, yang artinya fasilitas tersebut digunakan secara kolektif oleh beberapa keluarga. Tidak terdapat keluarga yang menggunakan jamban umum maupun yang masih melakukan buang air besar di tempat terbuka seperti sungai, pekarangan, kebun, atau lainnya. Secara umum, data ini menunjukkan bahwa seluruh keluarga telah memiliki akses terhadap fasilitas buang air besar yang relatif aman dan terkontrol.

Tingginya proporsi penggunaan jamban pribadi maupun bersama menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi yang sehat sudah cukup tinggi. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat terus mendorong program peningkatan sanitasi, termasuk bantuan pembangunan jamban sehat dan edukasi tentang pola hidup bersih dan sehat (PHBS).