Kelurahan Kalinyamat Kulon merupakan salah satu wilayah yang tengah berkembang di Kecamatan Margadana, Kota Tegal. Sebagai bagian dari dinamika perkotaan, masyarakat Kalinyamat Kulon dihadapkan pada berbagai tantangan sosial dan ekonomi yang saling berkaitan. Untuk memahami lebih jauh kondisi kesejahteraan warganya, indikator pengangguran dan kemiskinan menjadi dua tolak ukur penting yang dapat mencerminkan realitas yang ada di lapangan. Melalui pendekatan berbasis data, Kelurahan Kalinyamat Kulon berupaya untuk membaca permasalahan sosial secara lebih akurat dan menyeluruh. Informasi ini menjadi dasar dalam merancang berbagai program intervensi yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

1. Tingkat Pengangguran

Sebagai salah satu kelurahan yang terus berkembang di wilayah Kecamatan Margadana, Kalinyamat Kulon dihadapkan pada berbagai tantangan pembangunan, salah satunya adalah persoalan ketenagakerjaan. Meskipun berbagai upaya pemberdayaan telah dilakukan, tingkat pengangguran masih menjadi isu yang perlu mendapat perhatian serius.

Berdasarkan data terkini, jumlah pengangguran di Kalinyamat Kulon tercatat sebanyak 115 orang atau sekitar 2,01 persen dari total penduduk di kelurahan ini. Secara sebaran wilayah, angka tertinggi berada di RW 003 dengan 42 orang, disusul RW 004 sebanyak 27 orang, RW 002 sebanyak 24 orang, dan RW 001 sebanyak 22 orang. Data ini memberikan gambaran bahwa sebagian besar pengangguran terkonsentrasi di wilayah tengah hingga utara kelurahan.

Jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar pengangguran merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD), yang mencakup sekitar 42,6% dari total pengangguran. Disusul oleh lulusan SMP sebanyak 33,0%, SMA sebanyak 21,7%, dan S1 sebanyak 1,7%. Sementara itu, terdapat 0,9% pengangguran yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pengangguran masih didominasi oleh individu dengan tingkat pendidikan rendah hingga menengah, yang relatif memiliki keterbatasan dalam akses terhadap pasar kerja formal maupun peluang usaha mandiri.

Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah kelurahan dan pihak-pihak terkait untuk merancang program peningkatan keterampilan kerja (upskilling), pelatihan vokasi, serta pengembangan wirausaha lokal. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan, Kalinyamat Kulon diharapkan mampu menurunkan angka pengangguran dan menciptakan masyarakat yang produktif dan mandiri.

2.    Tingkat Kemiskinan

Profil Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Kalinyamat Kulon Berdasarkan Data DTSEN 2026

Kelurahan Kalinyamat Kulon terus berupaya meningkatkan akurasi data sosial ekonomi masyarakat sebagai dasar perencanaan pembangunan dan penyaluran program bantuan sosial. Berdasarkan hasil rekapitulasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang tercatat dalam aplikasi SIKS-NG, kondisi kesejahteraan masyarakat Kalinyamat Kulon telah dipetakan berdasarkan sistem desil.

DTSEN merupakan basis data nasional yang mengelompokkan masyarakat berdasarkan tingkat kesejahteraan dari kelompok paling rendah (Desil 1) hingga kelompok paling tinggi (Desil 10). Data ini menjadi salah satu acuan pemerintah dalam menetapkan sasaran program perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan.

Gambaran Umum DTSEN Kalinyamat Kulon

Berdasarkan Data tunggal  sosial ekonomi nasional

  • Jumlah keluarga : 2.213 KK
  • Jumlah individu : 6.475 jiwa

Analisis Tingkat Kemiskinan dan Kerentanan Sosial

Dalam sistem DTSEN, Desil 1 sampai Desil 4 merupakan kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah yang menjadi prioritas program perlindungan sosial pemerintah. Kelompok ini terdiri atas kategori sangat miskin, miskin, hampir miskin, dan rentan miskin.

Di Kelurahan Kalinyamat Kulon terdapat:

  • 812 keluarga pada Desil 1–4.
  • Jumlah tersebut setara dengan sekitar 36,7% dari total keluarga DTSEN.

Rinciannya:

Desil 1 (Sangat Miskin)

Sebanyak 197 keluarga (597 jiwa) berada pada kelompok kesejahteraan terendah. Kelompok ini menjadi prioritas utama berbagai program bantuan sosial dan intervensi pemerintah.

Desil 2 (Miskin)

Terdapat 179 keluarga (617 jiwa) yang masih tergolong miskin dan membutuhkan dukungan program pengentasan kemiskinan.

Desil 3 (Hampir Miskin)

Sebanyak 207 keluarga (655 jiwa) masuk kategori hampir miskin. Kelompok ini cukup rentan mengalami penurunan kesejahteraan apabila terjadi guncangan ekonomi, kehilangan pekerjaan, atau kondisi darurat lainnya.

Desil 4 (Rentan Miskin)

Sebanyak 229 keluarga (734 jiwa) tergolong rentan miskin. Meskipun kondisi ekonominya sedikit lebih baik dibanding kelompok sebelumnya, mereka masih memerlukan perhatian agar tidak jatuh ke kategori miskin.

Kelompok Menengah dan Menengah Atas

Sebanyak 1.200 keluarga berada pada Desil 5 hingga Desil 10. Kelompok ini mencakup masyarakat dengan kondisi ekonomi pas-pasan hingga sejahtera dan umumnya bukan sasaran utama program bantuan sosial reguler.

Jumlah tersebut mencapai sekitar 54,2% dari total keluarga yang telah mendapatkan pemeringkatan kesejahteraan.

Data Belum Pemeringkatan

Masih terdapat 201 keluarga (303 jiwa) yang berstatus belum pemeringkatan. Data ini perlu menjadi perhatian karena memerlukan proses verifikasi dan pemutakhiran agar kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat tergambarkan secara lebih akurat.